Hi! Apa kabar? udah lumayan lama ga posting. Bukan karena ga ada waktu, tapi ga ada mau. hehe

Kebetulan mendapatkan tugas kuliah untuk membuat resensi film. I choose one of my favorite Indonesia movie, Malaikat Tanpa Sayap. Bisa diakui awalnya nonton film ini karena didorong oleh rasa terkesimanya terhadap Adipati Dolken di film Perahu Kertas. Jadi cari-cari film yang diperanin sama dia deh. Eh tau nya jatuh hati juga sama peran dia di film ini. Are you ready to catch it? Here it goes…..

But but but…. I wanna share something special before it. Rangkaian kalimat indah dan sangat nancep atau istilah gaulnya itu jleb yang gw dapet dari film ini.

Dalam hidup ga ada jaminan buat terus bahagia, ga ada kepastian buat apapun. Setiap orang bisa terlempar keluar dari kotak nyamannya secara tiba-tiba.

Kita memang hidup dalam sekat-sekat, pengotakan, pelebelan. Dan saat pelebelan kita dicabut, kita bukan siapa siapa lagi.

Persetan dengan pengkotak-kotakan, sekat-sekat yang berdiri tegak diantara manusia, toh hidup ini dunia mainnya orang dewasa, kita pura-pura tua untuk melewatinya, atau pura-pura jadi anak-anak untuk menghindarinya

Jatuh cinta sama kamu bikin aku utuh, aku engga lagi ngerasa separuh.

Aku ingin tumbuh menjadi lak-laki, yang menyimpan sepi nya sendiri.

Embun ga perlu warna untuk biar bisa bikin daun jatuh cinta.

“Malaikat Tanpa Sayap”

Film berjudul “Malaikat Tanpa Sayap” yang disutradarai oleh Rako Prijanto ini menceritakan tentang seorang pelajar SMA yang bernama Vino (Adipati Dolken) yang tiba-tiba harus berhenti sekolah karena sudah tidak sanggup membayar biaya sekolah. Ayah Vino yang bernama Amir (Surya Saputra) mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh rekan kerjanya. Hubungan keluarga yang tidak harmonis serta besarnya gengsi Amir yang tak mau bekerja sebagai pegawai rendahan, mendorong ibu Vino yaitu Mirna (Kinaryoshi) untuk meninggalkan keluarga.

Tak lama setelah perginya Mirna, adik Vino yaitu Wina (Geccha Qheagaveta) mengalami kecelakaan sehingga harus dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani operasi. Banyaknya darah yang keluar akibat kecelakaan, membuat Wina membutuhkan transfusi darah. Gadis kecil berusia 5 tahun ini memiliki golongan darah yang langka, A rhesus negatif. Sebagai kakak, Vino mengajukan diri untuk melakukan tranfusi darah. Seorang Calo bernama (Agus Kuncoro) mengetahui keadaan Vino yang sedang mengalami kesulitan dalam keuangan sehingga memberikan tawaran kepada Vino untuk menjadi pendonor jantung karena  sang resipien memiliki golongan darah yang sama dengan Vino.

Keadaan Wina yang semakin memburuk dan harus segera dioperasi, membuat Vino melakukakan berbagai usaha agar bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya Rumah Sakit. Dari mulai pinjam ke teman-teman sekolahnya dulu hingga melakukan pencurian motor, semua usahanya itu tidak membuahkan hasil. Vino merasa putus asa atas musibah yang bertubi-tubi datang menghampirinya. Vino memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri dari lantai tertinggi Rumah Sakit. Namun, tiba-tiba seorang gadis manis bernama Mura (Maudy Ayunda) datang mengejutkan Vino dan berhasil membuat Vino mengurungkan niatnya untuk mengakahiri hidup.

Tawaran yang pernah disampaikan sang Calo untuk menjadi pendonor jantung, akhirnya diambil oleh Vino. Vino menerima sejumlah uang dari sang Calo, uang tersebut selain digunakan untuk membayar Rumah Sakit, digunakan juga untuk mengambil alih kembali rumah ayahnya yang disita Bank. Keadaan financial yang membaik, membuat Vino kembali merasa percaya diri. Ia sering menemui Mura. Banyak sekali boneka di rumah Mura, hal itu mendorong Vino untuk membawa adiknya mengunjungi rumah Mura.

Selama perjalanan  pulang dari rumah Mura, Vino merasa ada yang mengikutinya. Ia berlari dengan Wina di tengah jalan yang sepi. Namun karena boneka pemberian Mura yang dibawa oleh Wina terjatuh, membuat pelarian Vino dan Wina terhenti karena sang penguntit berhasil mengejarnya. Ternyata penguntit itu adalah sang Calo. Ia geram karena Vino berusaha kabur darinya setelah menerima sejumlah uang yang cukup besar. Sang Calo menguak rahasia terbesar, ternyata calon penerima donor jantung dari Vino adalah Mura.

Untuk membuktikan ucapan sang Calo bahwa Mura lah yang nanti akan menerima jantung Vino, ia mengajak Mura untuk meluncur cepat menggunakan sepeda. Dan terbukti, tubuh Mura melemah dan menghembuskan nafas tak beraturan. Namun Mura meminta papa nya agar tidak menceritakan mengenai penyakitnya kepada Vino. Selang beberapa waktu, Mura memiliki keberanian untuk menceritakan bahwa ia menderita sakit jantung.

Sementara papa Vino, Amir, merasa tidak dihormati oleh kedua anaknya. Hal ini dipicu karena Wina tidak mau papa nya yang datang ke sekolah untuk menghadiri rapat, ia meminta Vino yang datang. Teman-teman Wina mengejeknya karena sang papa adalah supir taksi. Amir merasa Vino telah mengambil semua tanggungjawab nya sebagai papa. Sementara itu, Vino menemui sang Calo untuk menyampaikan bahwa ia belum siap untuk mendonorkan jantungnya karena ada berbagai urusan yang belum terselesaikan. Kondisi kesehatan Mura semakin menurun, Papa Mura menangis sedu sedan melihat keadaan anak semata wayang nya tergolek lemah tak berdaya. Vino menuntaskan segala urusannya, ia menulis surat untuk Wina, Maura, dan Papa nya.

Meskipun kondisi tubuh Mura sedang lemah, Vino mengajak Mura ke suatu tempat. Tempat dimana dipentaskannya  pertunjukkan melukis diatas kaca dengan pasir. Kisah wayang yang bernama Amarah dan Bening tentang kematian, Mura tak sanggup untuk menonton hingga akhir cerita. Ia meminta kepada Vino agar bisa meninggalkan tempat itu. Mura berpikiran bahwa wayang dan lukisan kaca itu hanya dongeng, di dunia nyata tak ada yang berani untuk menukarkan nyawa demi orang lain. Mura meminta pada Vino, jika ia pergi ingatlah ia sekali-kali.

Vino menandatangani surat perjanjian mengenai donor jantung. Sang Calo memberikan obat-obatan kepada Vino. Disaat Vino sedang terkapar di dalam kamar karena menegak banyak obat, tak terduga Mirna datang ke rumah untuk mengambil Wina. Amir berusaha untuk menghentikan Mirna, namun kekasih Mirna menodongkan pistol kepada Amir. Dan Amir pun tertembak. Vino dan juga Amir dibawa ke Rumah Sakit. Ternyata Amir sudah mengetahui tentang apa yang dilakukan Vino, ia meminta kepada sang Calo agar ia yang menjadi pendonor jantung.

Penasaran kan penasaran kan? Mendingan langsung tonton aja film nya, biar feel nya lebih kerasa. See you on my next posting!