Minggu lalu tepatnya pada tanggal 28 Februari 2016, I got a very yummy inspiration from Kang Fajar. Kami para blogger Bogor mendapatkan kehormatan untuk menghadiri grand opening sebuah kedai “Ayam Madu SiBangkong” yang terletak di Jl. Sancang No. 7E . Adek-adek mahasiswa Diploma IPB mana suaranya? Ciyeh akhirnya ada ayam yang enak pake banget dan terjangkau pula, jangan keseringan jajan ayam tepung lagi ya. Angkatan kalian terselamatkan! haha.

Kedai "Ayam Madu SiBangkong" di Jl. Sancang No. 7E
Kedai “Ayam Madu SiBangkong” di Jl. Sancang No. 7E

Sebelum menyantap kenikmatan Ayam Madu SiBangkong ini, Kang Fajar bercerita tentang perjuangannya agar ayam madu racikan sang ibunda bisa dinikmati juga oleh banyak orang. This is why I told ya “I got a very yummy inspiration”. Kolaborasi perjuangan anak dan ibu, what a beautiful story. Membangun usaha dari warung nasi yang menyuguhkan berbagai hidangan, namun selalu si ayam madu lah yang menjadi primadona dan habis duluan. Sehingga Kang Fajar dan Ibunda memfokuskan untuk mengembangkan ayam madu. Maka taraaaa….. terciptalah brand “Ayam Madu SiBangkong”.

Fajar Mandala Wahyu Putra, founder "Ayam Madu SiBangkong"
Fajar Mandala Wahyu Putra, founder “Ayam Madu SiBangkong”

Ngapain ayam ngajak-ngajakin bangkong? Haha. Bangkong itu berasal dari Bahasa Sunda yang artinya katak, suka melompat-lompat. Kang Fajar ini di Bandung dikenal dengan sebutan si“Bangkong”. Kok bisa?  karena pada saat masih menjadi pelajar, ia suka lompat-lompat ke sekolah lain dengan cara menyamar , strategi yang digunakan dalam penyamaran yaitu menempelkan bet sekolah dengan perekat/double tip.  Namanya cari ilmu itu ga cukup belajar di satu tempat, mungkin itu pikirnya pada saat itu. Zaman sekarang ada gak ya pelajar yang kayak begitu? Memang harus melawan arus ya jika mau sukses, disaat  para pelajar lain ogah-ogahan untuk belajar dan lebih suka tawuran, Kang Fajar malah nyamar supaya bisa jadi siswa di berbagai sekolah haha.

wanna bite ayam madu?
wanna bite ayam madu?

Kedai “Ayam Madu SiBangkong” ini pertama kali berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2009, di wilayah Telkom University.  Pada awal buka kedai ayam madu ini, tepatnya bulan ke-1 hingga ke-6 hanya terjual 24-40 porsi/hari. Kang Fajar memiliki strategi untuk meningkatkan angka penjualan dengan cara sebar brosur ke wilayah kampus yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, banyak yang berbuka puasa dengan si ayam madu. Meningkat pesatlah si penjualan. Membaca situasi banyak mahasiswa yang “mager” alias males gerak, maka Kang Fajar membuka layanan “delivery” sehingga pada tahun ke-2 “Ayam Madu SiBangkong” ini berdiri, larislah 25kg/hari.  Kang  Fajar membocorkan rahasia nih, strategi branding paling asyik kala itu adalah mengadakan lomba pembuatan logo yang pesertanya adalah para mahasiwa. Dari situlah, “Ayam Madu SiBangkong” semakin laris. Pada tahun 2015, “Ayam Madu SiBangkong” ini membuka cabang di Kota Bandung, tepatnya di Jl. R.E. Martadinata No.85.

Favorite Menu di "Ayam Madu SiBangkong"
Favorite Menu di “Ayam Madu SiBangkong”

Gimana ceritanya Kang Fajar jadi kepikiran buka cabang di Bogor pada tahun 2016 ini ya? Berawal dari pembeli yang takjub karena anaknya yang sulit sekali makan tetapi pada saat mencicipi “Ayam Madu SiBangkong” kok bisa menyantap dengan lahap bahkan minta nambah. Bahkan sang suami yang biasanya nyaris pingsan jika mencium aroma daging bebek, mencoba paket Bebek Madu yang juga menjadi menu andalah di kedai “Ayam Madu SiBangkong” dan bisa disantap sampai habis dan tidak terjadi apa-apa. Sehingga akhirnya, sang pembeli mengajak Kang Fajar untuk bermitra dan membuka kedai “Ayam Madu SiBangkong” di kota hujan ini.

Hati-hati ketagihan "Ayam Madu SiBangkong" !
Hati-hati ketagihan “Ayam Madu SiBangkong” !

Tak terasa sudah waktunya makan siang, dan para blogger Bogor sudah dihidangkan “ayam madu” dihadapan kami. Wahhhh… setelah dengar kisahnya, makin excited buat nyicip si calon primadona kuliner Bogor ini, “Ayam Madu SiBangkong” . Secara kasat mata, tampilan ayam madu ini seperti dibakar, bahkan Kang Anka (blogger Bogor) sempat tertipu. Dikira dibakar, ternyata digoreng. Entah kenapa Kang Fajar baik banget share rahasia dapurnya, madu dikucurin pada saat ayam diungkep, jadi meresap. That’s the point! Tangan udah gatel buat nyomot, dan ternyata ketika si ayam madu dicocol ke sambel cingcalo (dicincang lalu digalo/diaduk), lalu siap untuk ditempelkan pada nasi hangat, tak lupa untuk mengambil si kol goreng crispy yang menjadi favorit warga Bandung, okeh sudah siap dimasukkan ke dalam mulut. Dan Tuhan, I fall in love from the very first bite. Ahhhhhhhhhhh! Enak Parah!!!! Gila, ada ya makanan dengan harga belasan ribu rupiah tapi se-amazing ini. Wowwww. Hanya dengan merogoh kocek untuk ayam madu (16,5k) + kol goreng (2,5k) + es kelapa muda (12,5k) = total menjadi 31.5k. Murah meriah, tapi rasa mewah!

Thanks for a very yummy inspiration nya ya Kang Fajar!
Thanks for a very yummy inspiration nya ya Kang Fajar!

Lokasi:

Bandung

Jl. R.E Martadinata No.85

Jl. Babakan Ciamis (kawasan Telkom University)

Bogor

Jl. Sancang No.7E

Contact:

Instagram : @am_sibangkong

Twitter : @am_sibangkong